Dear My Lovely Minka,....
Sabtu,
Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rojiun.....
Kamu pergi cepat sekali Nak.. you shown, you came, but you never open your eyes for me and your Mom...
Tapi kamu tetap cantik..lebih cantik dari semua ciptaan Tuhan yang pernah Ayah lihat...
Walaupun kamu udah pergi waktu masih di perut buncitnya Bunda..tapi dia tetep milih ngelahirin kamu dengan cara normal, ga milih Caesar, yang kadang jadi pilihan Ibu-ibu lain yang ga mau ngerasain sakitnya melahirkan...
Jadi betapa mulia dan cintanya Bunda sama kamu dengan pengorbanannya...
Sepintas rasa penyesalan kita berdua yang ga bisa kasih kamu kesempatan hidup di dunia..tapi Ayah sadar, lebih baik kamu hidup kekal di Surga, daripada harus merasakan dunia fana yang kotor ini...
Only GOD knows why... but we believe, ALLAH punya rencana besar yang lebih indah buat kita..entah indah di bumi, atau indah di akhirat..Insya Allah indah di keduanya, Amin Allahuma Amin...
Ayah juga bersyukur sama ALLAH..walaupun ga bisa ngerawat kamu..tapi Ayah dikasih kesempatan ciumin kamu begitu lahir..adzanin kamu waktu abis dibersihin sama suster..kafanin kamu..taruh kamu di tanah yang gembur..Ayah malah iri liat kamu, kayanya damai banget waktu Ayah adzanin pas di makam... Subhanallah... Allah Maha Besar...
Kata orang - orang, muka kamu mirip banget sama Ayah..Bunda suka banget sama dagu dan bibir kamu yang katanya kaya Ayah..rambut kamu juga, tebel ikal kaya Ayah..tapi idung kamu mancungnya kaya Bunda...
Nanti kita ketemu lagi di Surga ya sayang... jemput Ayah sama Bunda di pintu Surganya ALLAH ya...
Kamu yang baik di
Terus jangan lupa nanti cium kakinya Bunda juga ya, yang udah berjuang ngerawat kamu sembilan bulan di kandungan dan ngelahirin kamu dalam keadaan udah ga ada... one in a million loh Bunda-mu...
Ayah Bunda cinta kamu... Akung Yangti Depok dan Taman Asri juga..Pakde Adit Bude Devi juga...Kakak Tisha juga nanyain kamu terus, katanya sedih waktu anter kamu ke makam, jadi ga ada temennya nonton Barney sama Princess... Om Yudha, Tante Ike sama Auntie Cynthia juga cintaaaaa banget sama kamu......
Sampe ketemu di
We love u more and more and more.............
-----Ayah & Bunda-----
Wednesday, April 16, 2008
The Late Ayesha Milinka Wiwoho
Monday, March 24, 2008
trams laer
Beberapa menit lalu saya mencoba mendaftarkan diri di sebuah mailing list alias milis, yang namanya Perspektif. Seperti biasalah, calon anggota diharuskan registrasi nama, alamat, tanggal lahir, dan lain-lain. Tapi ada satu yang kurang biasa, karena untuk menjadi anggota diwajibkan untuk membuat komentar. Ahh...pasti temen-temen tahu lah, Wimar Witoelar dengan Perspektifnya yang terkenal itu.
Ada beberapa pilihan. Mau mengomentari acara-acara perspektif, atau yang lainnya, sampai mengomentari Wimar. Tentu saya pilih yang paling menarik buat saya, mengomentari sosok seorang kolumnis terkemuka di Indonesia yang punya ciri khas rambut kribonya itu.
Salah satu komentar yang saya lontarkan adalah soal Wimar yang menurut saya adalah orang yang real smart, bukan smart. Karena menurut saya orang yang masuk kategori smart itu, memerlukan waktu 5-6 detik untuk menjawab atau membuat satu pertanyaan, termasuk komentar. Tapi kalau orang real smart paling-paling hanya membutuhkan waktu 1 detik. Persis seperti apa yang dilakukan Wimar jika tampil di layar kaca. Apa adanya, ngasal, tapi menurut saya ya itu tadi, real smart. Persis juga seperti pelawak-pelawak macam Komeng, Tukul, Narji, dan lain-lainnya yang kadang sembarangan aja kalau ngomong, atau ngatain orang. Walaupun kadang terkesan asal, dan ga ada esensinya, tetep aja menurut saya itu real smart.
Udah ahh, ga penting tulisannya. Ntar saya dikira naksir Wimar.....
Ada beberapa pilihan. Mau mengomentari acara-acara perspektif, atau yang lainnya, sampai mengomentari Wimar. Tentu saya pilih yang paling menarik buat saya, mengomentari sosok seorang kolumnis terkemuka di Indonesia yang punya ciri khas rambut kribonya itu.
Salah satu komentar yang saya lontarkan adalah soal Wimar yang menurut saya adalah orang yang real smart, bukan smart. Karena menurut saya orang yang masuk kategori smart itu, memerlukan waktu 5-6 detik untuk menjawab atau membuat satu pertanyaan, termasuk komentar. Tapi kalau orang real smart paling-paling hanya membutuhkan waktu 1 detik. Persis seperti apa yang dilakukan Wimar jika tampil di layar kaca. Apa adanya, ngasal, tapi menurut saya ya itu tadi, real smart. Persis juga seperti pelawak-pelawak macam Komeng, Tukul, Narji, dan lain-lainnya yang kadang sembarangan aja kalau ngomong, atau ngatain orang. Walaupun kadang terkesan asal, dan ga ada esensinya, tetep aja menurut saya itu real smart.
Udah ahh, ga penting tulisannya. Ntar saya dikira naksir Wimar.....
Wednesday, February 13, 2008
Bendera Kuning yang Kelabu
Sebelumnya ijinkan saya menyebut nama Almarhum Mantan Presiden Soeharto dengan sebutan Pak Harto. Bukan karena saya setuju dengan kemajuan ekonomi Indonesia yang “katanya” berkat Kapitalisasi dan Soehartonomic-nya, karena saya juga setuju dengan segala kesalahan yang selama ini ditujukan kepadanya. Tapi ijinkan saya memakai sebutan itu, karena saya terlahir dan dibesarkan oleh orangtua dan guru yang memperkenalkan sosok Soeharto, dengan panggilan, Pak Harto.
Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto telah berpulang. Orang yang pernah memimpin bangsa Indonesia selama 32 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Minggu, 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB. Sebelumnya Pak Harto dirawat selama 24 hari, karena mengalami kegagalan fungsi organ - organ penting di tubuhnya.
Kondisi kesehatan Pak Harto yang terus menurun, menyedot perhatian bukan hanya dari penjuru nusantara, tapi juga dunia. Lamanya duduk di tampuk kekuasaan tertinggi Indonesia membuat dirinya dikenal hingga ke seluruh benua. Lamanya menjadi pengambil kebijakan tertinggi pula, akhirnya membuat dirinya jatuh di tangan rakyatnya sendiri.
Dari sisi ekonomi, Pak Harto dikenal sebagai Bapak Pembangunan karena memang berhasil mendongkrak pendapatan per kapita Indonesia yang hanya US$ 70 di tahun pertamanya menjadi Presiden pada tahun 1967, menjadi US$ 200 dalam tempo 12 tahun saja. Kemudian meningkat lagi menjadi US$ 600, atau meningkat 300 % di tahun 1990, dan selanjutnya menjadi US$ 1100 di akhir - akhir masa jabatannya, pada tahun 1997. Dan juga angka kemiskinan yang sangat mengesankan yang terjadi antara tahun 1987 – 1996, dengan rata – rata 11,3 % dari sekitar 200 juta jiwa.
Atas kemajuan ekonomi Indonesia yang pesat itulah Indonesia juga dikenal sebagai Macan Asia. Dan berbagai program pemberdayaan di segala sektor, seperti Keluarga Berencana (KB), Swasembada Pangan, Wajib Belajar (Wajar) 6 tahun yang selanjutnya menjadi 9 tahun, dan lainnya lah yang dipercaya menjadi landasan dasarnya.
Namun sayang, praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah terlanjur membudaya di era-nya, akhirnya membuat Pak Harto dan juga bangsa Indonesia jatuh. Banyaknya dugaan pelanggaran HAM selama dirinya memerintah juga menjadi alasan rakyat untuk menggulingkannya.
Bagi saya tak peduli orang berkata apa. Memuja Pak Harto silahkan saja, dan mengutuk Pak Harto juga silahkan saja. Saya juga tidak memasang diri saya sebagai pengagum atau pembenci Pak Harto. Hanya saja saya dibesarkan oleh orangtua yang mengajarkan untuk mengambil kebaikan dari seseorang, dan membuang keburukannya. Untuk itulah saya belajar dari orang pintar hingga orang bodoh, dari orang baik hingga orang jahat.
Sejak lahir hingga akhir hayatnya, Pak Harto dikenal sebagai pribadi yang enggan mempercayakan kesehatannya kepada dokter negara lain. Sangat berbeda dengan mantan presiden Indonesia lainnya, yang lebih percaya tenaga kerja asing untuk mengutak – atik onderdil tubuhnya. Sehingga beberapa pekan sebelum meninggal, salah seorang anggota tim dokter Kepresiden mengucapkan terima kasihnya kepada Pak Harto, karena telah menghargai dan mengangkat moral dokter Indonesia.
Jujur saya bangga terhadap Pak Harto. Bagi saya sikap seperti itulah sejatinya yang harus dilakukan negarawan dan juga orang – orang yang mengaku nasionalis. Jadi berkacalah juga bagi para politisi, aktivis, dan warga negara Indonesia yang menuntut kasus hukum Pak Harto beserta keluarga dan kroni – kroninya untuk diselesaikan.
Jangan mengaku nasionalis kalau masih berobat ke luar negeri. Jangan mengaku nasionalis kalau lebih suka berlibur ke luar negeri daripada ke pelosok negeri.
Tapi ya bagaimana lagi. Hukum manusia memang masih tersendat, tapi hukum alam tetap terus berjalan. Tak peduli rasa berduka belum berlalu, rasa benci terus melaju. Bendera kuning Pak Harto pun menjadi kelabu.
Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto telah berpulang. Orang yang pernah memimpin bangsa Indonesia selama 32 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Minggu, 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB. Sebelumnya Pak Harto dirawat selama 24 hari, karena mengalami kegagalan fungsi organ - organ penting di tubuhnya.
Kondisi kesehatan Pak Harto yang terus menurun, menyedot perhatian bukan hanya dari penjuru nusantara, tapi juga dunia. Lamanya duduk di tampuk kekuasaan tertinggi Indonesia membuat dirinya dikenal hingga ke seluruh benua. Lamanya menjadi pengambil kebijakan tertinggi pula, akhirnya membuat dirinya jatuh di tangan rakyatnya sendiri.
Dari sisi ekonomi, Pak Harto dikenal sebagai Bapak Pembangunan karena memang berhasil mendongkrak pendapatan per kapita Indonesia yang hanya US$ 70 di tahun pertamanya menjadi Presiden pada tahun 1967, menjadi US$ 200 dalam tempo 12 tahun saja. Kemudian meningkat lagi menjadi US$ 600, atau meningkat 300 % di tahun 1990, dan selanjutnya menjadi US$ 1100 di akhir - akhir masa jabatannya, pada tahun 1997. Dan juga angka kemiskinan yang sangat mengesankan yang terjadi antara tahun 1987 – 1996, dengan rata – rata 11,3 % dari sekitar 200 juta jiwa.
Atas kemajuan ekonomi Indonesia yang pesat itulah Indonesia juga dikenal sebagai Macan Asia. Dan berbagai program pemberdayaan di segala sektor, seperti Keluarga Berencana (KB), Swasembada Pangan, Wajib Belajar (Wajar) 6 tahun yang selanjutnya menjadi 9 tahun, dan lainnya lah yang dipercaya menjadi landasan dasarnya.
Namun sayang, praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah terlanjur membudaya di era-nya, akhirnya membuat Pak Harto dan juga bangsa Indonesia jatuh. Banyaknya dugaan pelanggaran HAM selama dirinya memerintah juga menjadi alasan rakyat untuk menggulingkannya.
Bagi saya tak peduli orang berkata apa. Memuja Pak Harto silahkan saja, dan mengutuk Pak Harto juga silahkan saja. Saya juga tidak memasang diri saya sebagai pengagum atau pembenci Pak Harto. Hanya saja saya dibesarkan oleh orangtua yang mengajarkan untuk mengambil kebaikan dari seseorang, dan membuang keburukannya. Untuk itulah saya belajar dari orang pintar hingga orang bodoh, dari orang baik hingga orang jahat.
Sejak lahir hingga akhir hayatnya, Pak Harto dikenal sebagai pribadi yang enggan mempercayakan kesehatannya kepada dokter negara lain. Sangat berbeda dengan mantan presiden Indonesia lainnya, yang lebih percaya tenaga kerja asing untuk mengutak – atik onderdil tubuhnya. Sehingga beberapa pekan sebelum meninggal, salah seorang anggota tim dokter Kepresiden mengucapkan terima kasihnya kepada Pak Harto, karena telah menghargai dan mengangkat moral dokter Indonesia.
Jujur saya bangga terhadap Pak Harto. Bagi saya sikap seperti itulah sejatinya yang harus dilakukan negarawan dan juga orang – orang yang mengaku nasionalis. Jadi berkacalah juga bagi para politisi, aktivis, dan warga negara Indonesia yang menuntut kasus hukum Pak Harto beserta keluarga dan kroni – kroninya untuk diselesaikan.
Jangan mengaku nasionalis kalau masih berobat ke luar negeri. Jangan mengaku nasionalis kalau lebih suka berlibur ke luar negeri daripada ke pelosok negeri.
Tapi ya bagaimana lagi. Hukum manusia memang masih tersendat, tapi hukum alam tetap terus berjalan. Tak peduli rasa berduka belum berlalu, rasa benci terus melaju. Bendera kuning Pak Harto pun menjadi kelabu.
Tuesday, January 1, 2008
Bhutto, Global Warming dan Pesawat Jatuh
Tewasnya mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, akhirnya menutup tragedi politik dunia yang terjadi selama tahun 2007. Bhutto yang seharusnya tampil dalam pemilu 8 Januari mendatang terpaksa harus melanjutkan “warisan” tragis keluarganya. Ayahnya Zulfiqar Ali Bhutto, pendiri Pakistan People Party (PPP), tewas di tiang gantungan setelah digulingkan lawan politiknya, Zia Ul-Haq tahun 1979. Sedangkan kedua kakaknya juga tewas di-“dor” saat meneruskan perjuangan ayahnya. Dan yang terakhir, seorang fanatik menembak dada dan kepala Benazir hingga tewas, yang dilanjutkan dengan aksi bom bunuh diri.
Kematian Bhutto hanyalah satu dari sekian banyak tragedi dunia yang terjadi sepanjang tahun 2007. Selain politik, sosial dan lain – lain, transportasi juga mengisi lembaran hitam tahun Babi.
Tragedi pertama dibuka dari dalam negeri dengan hilangnya pesawat Adam Air di perairan Sulawesi Selatan, tepat di hari pertama 2007. Bangkai pesawat yang mengangkut 102 penumpang termasuk pilot dan kru itu terdeteksi di kedalaman 2.000 meter di bawah permukaan laut. Sementara kotak hitam baru berhasil diangkat pada 27 Agustus, yang selanjutnya dikirim untuk dibaca oleh National Trasnportation Savety Board (NTSB) di Amerika Serikat. Peristiwa ini termasuk salah satu kecelakaan transportasi yang menyita banyak perhatian dunia.
Berlanjutnya kekerasan di Irak pasca invasi Amerika tahun 2003 juga masih menghiasi langit kelam 2007. Menurut berbagai sumber tercatat 2.000 orang tewas pada bulan Januari saja. Dan total sudah mencapai lebih dari 1 juta orang tewas hingga akhir tahun ini, terhitung sejak invasi. Tapi bukan hanya Irak saja yang menyusut jumlah warga negaranya. Amerika pun sudah menyumbang tak kurang dari 3.000 nyawa tentaranya.
Entah kapan Amerika akan mengangkatkan kakinya dari negeri 1001 malam itu. Jangan – jangan Tuhan pun belum tahu kapan waktu yang tepat untuk menendang pantat Paman Sam.
Amerika tidak hanya mengirim teror ke negara jajahannya. Pada 16 April, 33 orang tewas dan banyak lagi lainnya yang mengalami luka – luka, setelah seorang pria bersenjata melakukan penembakan membabi – buta di Universitas Viriginia Tech. Indonesia turut berduka dalam peristiwa ini, karena satu orang WNI yang sedang menyelesaikan program S2 bernama Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan, ikut tewas. Penembakan di Virginia ini menyumbang jumlah korban tewas terbanyak dalam peristiwa serupa yang pernah terjadi di Amerika Serikat.
Mei, Juni tidak ada peristiwa yang terlalu menggemparkan. Tapi pada bulan Juli aksi kekerasan di Pakistan mulai memanas, setelah tentara Pakistan pimpinan Jenderal Pervez Musharraf melakukan penyerangan bersenjata terhadap Masjid Merah di Islamabad, yang menyebabkan berakhirnya pendudukan militan atas masjid tersebut. Setidaknya 8 prajurit dan 60 militan termasuk ulama masjid tewas dalam pertempuran. Beberapa sumber juga menyebutkan korban tewas mencapai 200 orang, termasuk wanita dan anak – anak. Aksi kekerasan menentang pemerintah pimpinan Musharraf terus berlanjut hingga sekarang.
Musibah transportasi udara kembali terjadi pada bulan ini. Pesawat milik maskapai penerbangan Brazil TAM Airlines jatuh dan menabrak sebuah pompa bensin, serta sebuah gedung milik TAM sendiri, tak jauh sesaat setelah mendarat di landasan pacu Bandara Internasional Congonhas, Sao Paulo, Brazil. 176 penumpangnya tewas, dan sedikitnya 40 orang yang berada di darat ikut menjadi korban jiwa.
2007 memang tahunnya transportasi udara untuk berinterospeksi. Pada bulan September tragedi kembali terjadi setelah sebuah jet penumpang Thailand One-Two-Go milik yang mengangkut 130 orang terjatuh saat mencoba mendarat di tengah guyuran hujan deras, di bandara Phuket, Thailand, yang menyebabkan 88 penumpangnya tewas dan 42 lainnya terluka, termasuk 5 kritis. Pesawat ini dipiloti oleh seorang pilot berkebangsaan Indonesia, bernama Arief Mulyadi yang juga meninggal.
Tragedi dari sektor transportasi belum berakhir. Kali ini giliran situasi politik yang datang dari negara tetangga, Myanmar. Perjuangan demokrasi masyarakat Myanmar menentang junta militer menyita perhatian dunia karena mendapat perlawanan keras tentara dengan persenjataan lengkap. Ribuan bhiksu dan warga turun ke jalan menuntut penguasa junta Jenderal Senior Than Shwe untuk turun, dan membebaskan tokoh demokrasi Aung San Su Kyi. Junta militer merilis sebanyak delapan orang tewas dalam insiden berdarah ini, termasuk lima bhiksu dan seorang wartawan WN Jepang. Namun versi lainnya menyebutkan lebih dari 1.000 orang yang diduga sengaja dihilangkan atau dibunuh.
Di tahun 2007 climate change dan global warming menjadi salah satu isu yang sangat populer. Begitu juga dengan bencana yang disebabkan. Salah satu yang paling banyak menelan korban jiwa terjadi di Bangladesh. Badai Siklon Tropis Sidr yang berlangsung beberapa hari di pertengahan November menyebabkan setidaknya 3.300 orang tewas, dan 5.000 lainnya terluka.
Perubahan iklim meningkatkan jumlah dan intensitas kejadian ekstrem, seperti banjir dan kekeringan. Dan siklon tropis Sidr adalah salah satu yang sangat berbahaya, karena energi yang merusaknya berupa angin berkecepatan tinggi, hujan deras, badai petir yang seringkali disertai banjir, tornado, dan tanah longsor. Dari data yang dicatat Munich Re (sebuah perusahaan re-asuransi terbesar kedua di dunia - red) sebanyak 950 bencana alam terjadi di dunia yang disebabkan perubahan iklim selam 2007, dengan kerugian mencapai 75 milyar dollar AS, dan 20.000 korban jiwa.
So, what we facing in 2008 ?? Jelas, tanpa ada konsultasi dengan cenayang atau peramal, tragedi politik seperti Bhutto, perubahan iklim yang terus mengancam, dan kecanggihan teknologi pesawat terbang yang masih banyak gagalnya pasti masih akan terus menghantui 2008.
And, what we have to do ?? Interospeksi bagi yang merasa bertanggung jawab, dan berdoa bagi yang masih merasa berada di tengah – tengah semua tragedi itu.
Good bye 2007, good bye tragedies !! Hope it wouldn’t happen in 2008 !!
Kematian Bhutto hanyalah satu dari sekian banyak tragedi dunia yang terjadi sepanjang tahun 2007. Selain politik, sosial dan lain – lain, transportasi juga mengisi lembaran hitam tahun Babi.
Tragedi pertama dibuka dari dalam negeri dengan hilangnya pesawat Adam Air di perairan Sulawesi Selatan, tepat di hari pertama 2007. Bangkai pesawat yang mengangkut 102 penumpang termasuk pilot dan kru itu terdeteksi di kedalaman 2.000 meter di bawah permukaan laut. Sementara kotak hitam baru berhasil diangkat pada 27 Agustus, yang selanjutnya dikirim untuk dibaca oleh National Trasnportation Savety Board (NTSB) di Amerika Serikat. Peristiwa ini termasuk salah satu kecelakaan transportasi yang menyita banyak perhatian dunia.
Berlanjutnya kekerasan di Irak pasca invasi Amerika tahun 2003 juga masih menghiasi langit kelam 2007. Menurut berbagai sumber tercatat 2.000 orang tewas pada bulan Januari saja. Dan total sudah mencapai lebih dari 1 juta orang tewas hingga akhir tahun ini, terhitung sejak invasi. Tapi bukan hanya Irak saja yang menyusut jumlah warga negaranya. Amerika pun sudah menyumbang tak kurang dari 3.000 nyawa tentaranya.
Entah kapan Amerika akan mengangkatkan kakinya dari negeri 1001 malam itu. Jangan – jangan Tuhan pun belum tahu kapan waktu yang tepat untuk menendang pantat Paman Sam.
Amerika tidak hanya mengirim teror ke negara jajahannya. Pada 16 April, 33 orang tewas dan banyak lagi lainnya yang mengalami luka – luka, setelah seorang pria bersenjata melakukan penembakan membabi – buta di Universitas Viriginia Tech. Indonesia turut berduka dalam peristiwa ini, karena satu orang WNI yang sedang menyelesaikan program S2 bernama Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan, ikut tewas. Penembakan di Virginia ini menyumbang jumlah korban tewas terbanyak dalam peristiwa serupa yang pernah terjadi di Amerika Serikat.
Mei, Juni tidak ada peristiwa yang terlalu menggemparkan. Tapi pada bulan Juli aksi kekerasan di Pakistan mulai memanas, setelah tentara Pakistan pimpinan Jenderal Pervez Musharraf melakukan penyerangan bersenjata terhadap Masjid Merah di Islamabad, yang menyebabkan berakhirnya pendudukan militan atas masjid tersebut. Setidaknya 8 prajurit dan 60 militan termasuk ulama masjid tewas dalam pertempuran. Beberapa sumber juga menyebutkan korban tewas mencapai 200 orang, termasuk wanita dan anak – anak. Aksi kekerasan menentang pemerintah pimpinan Musharraf terus berlanjut hingga sekarang.
Musibah transportasi udara kembali terjadi pada bulan ini. Pesawat milik maskapai penerbangan Brazil TAM Airlines jatuh dan menabrak sebuah pompa bensin, serta sebuah gedung milik TAM sendiri, tak jauh sesaat setelah mendarat di landasan pacu Bandara Internasional Congonhas, Sao Paulo, Brazil. 176 penumpangnya tewas, dan sedikitnya 40 orang yang berada di darat ikut menjadi korban jiwa.
2007 memang tahunnya transportasi udara untuk berinterospeksi. Pada bulan September tragedi kembali terjadi setelah sebuah jet penumpang Thailand One-Two-Go milik yang mengangkut 130 orang terjatuh saat mencoba mendarat di tengah guyuran hujan deras, di bandara Phuket, Thailand, yang menyebabkan 88 penumpangnya tewas dan 42 lainnya terluka, termasuk 5 kritis. Pesawat ini dipiloti oleh seorang pilot berkebangsaan Indonesia, bernama Arief Mulyadi yang juga meninggal.
Tragedi dari sektor transportasi belum berakhir. Kali ini giliran situasi politik yang datang dari negara tetangga, Myanmar. Perjuangan demokrasi masyarakat Myanmar menentang junta militer menyita perhatian dunia karena mendapat perlawanan keras tentara dengan persenjataan lengkap. Ribuan bhiksu dan warga turun ke jalan menuntut penguasa junta Jenderal Senior Than Shwe untuk turun, dan membebaskan tokoh demokrasi Aung San Su Kyi. Junta militer merilis sebanyak delapan orang tewas dalam insiden berdarah ini, termasuk lima bhiksu dan seorang wartawan WN Jepang. Namun versi lainnya menyebutkan lebih dari 1.000 orang yang diduga sengaja dihilangkan atau dibunuh.
Di tahun 2007 climate change dan global warming menjadi salah satu isu yang sangat populer. Begitu juga dengan bencana yang disebabkan. Salah satu yang paling banyak menelan korban jiwa terjadi di Bangladesh. Badai Siklon Tropis Sidr yang berlangsung beberapa hari di pertengahan November menyebabkan setidaknya 3.300 orang tewas, dan 5.000 lainnya terluka.
Perubahan iklim meningkatkan jumlah dan intensitas kejadian ekstrem, seperti banjir dan kekeringan. Dan siklon tropis Sidr adalah salah satu yang sangat berbahaya, karena energi yang merusaknya berupa angin berkecepatan tinggi, hujan deras, badai petir yang seringkali disertai banjir, tornado, dan tanah longsor. Dari data yang dicatat Munich Re (sebuah perusahaan re-asuransi terbesar kedua di dunia - red) sebanyak 950 bencana alam terjadi di dunia yang disebabkan perubahan iklim selam 2007, dengan kerugian mencapai 75 milyar dollar AS, dan 20.000 korban jiwa.
So, what we facing in 2008 ?? Jelas, tanpa ada konsultasi dengan cenayang atau peramal, tragedi politik seperti Bhutto, perubahan iklim yang terus mengancam, dan kecanggihan teknologi pesawat terbang yang masih banyak gagalnya pasti masih akan terus menghantui 2008.
And, what we have to do ?? Interospeksi bagi yang merasa bertanggung jawab, dan berdoa bagi yang masih merasa berada di tengah – tengah semua tragedi itu.
Good bye 2007, good bye tragedies !! Hope it wouldn’t happen in 2008 !!
Monday, September 17, 2007
Gempa + R (Rumor) = Gempar
Masih ingat isu gempa besar dan tsunami yang dikabarkan akan melanda beberapa kawasan Indonesia awal Juni lalu ? Konon katanya berawal dari salah satu stasiun televisi terkemuka dunia, yang diteruskan menyebar melalui sms. Menurut kabar yang entah kabar burung atau kabar monyet itu, ibukota Jakarta merupakan salah satu kawasan yang akan ikut diguncang. Maka paniklah para cosmo man dan cosmo girl yang rutinitasnya dihabiskan di gedung-gedung pencakar langit, yang kerap menjadi sasaran empuk gempa.
“Aduh boo’..gue pokonya ga mau masuk kantor besok. Daripada gue brojol di tangga darurat !! ”, celetuk seorang teman wanita yang sedang hamil tua.
Itu sih belum seberapa, namanya juga orang hamil, membayangkan proses kelahiran saja parno, apalagi ditambah gempa ?! Tapi kalau yang paniK seorang laki-laki tulen dengan gelar master of bussines administration, yang sehari-hari duduk di ruang terpisah dari staf lainnya, dengan seorang sekretaris pribadi duduk di depan ruangannya ?? …Mmmmm….beli ya mas gelarnya ??
Hal serupa juga hampir saja terjadi pasca gempa besar dengan kekuatan 7,9 skala richter yang memberikan duka bagi warga Bengkulu dan sekitarnya di awal Ramadhan ini. Beberapa hari berselang muncul berita kalau kawasan di pulau Jawa dan Sumatera diprediksi akan merasakan guncangan hebat dengan kekuatan 9 skala richter, dengan berdasarkan indikasi - indikasi tertentu mengenai pergerakan lempengan bumi dalam keilmuan geofisika. Walaupun tak diperinci kapan dan di mana tepatnya pusat getaran, tapi di beberapa media cetak nasional sampai memosisikan berita tersebut sebagai headline di halaman utama, dengan narasumber Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Untung saja dalam waktu yang singkat, Kepala BMG Indonesia Sri Woro Budiati Harijono langsung menyangkal kabar burung, monyet dan teman – temannya itu.
Pasca gempa dan tsunami yang membumi hancurkan Nanggroe Aceh Darussalam akhir 2004 lalu, informasi mengenai teknologi bencana terutama gempa, ramai dibicarakan oleh berbagai media nasional dan internasional. Tentunya kalau media yang berbicara sudah pasti pengaruhnya sangat besar dong, apalagi bagi para kalangan terpelajar yang seharusnya mudah mencerna informasi.
Salah satu yang paling sering kita dengar yaitu Early Warning System. Suatu alat teknologi mutakhir yang dalam sekian detik mampu mendeteksi getaran gempa tektonik (di laut), apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Itupun setelah gempa terjadi, dan bukannya memprediksi kapan terjadinya gempa ya. Secanggih-canggihnya seismograph hanya bisa mencatat dan mengukur besarnya getaran yang terjadi, bukan memprediksi, meramal atau dan sebagainya. Bahkan Menristek Kusmayanto Kadiman dalam sebuah media massa mengatakan, kalau teknologi Early Warning System walau canggih sekalipun ternyata tidak dapat dijamin tepat 100 persen. Menurutnya masih banyak faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kerja alat pendeteksi tersebut.
Mungkin anda yang sedang membaca tulisan singkat ini tahu mana negara yang kerap menjadi salah satu langganan gempa. Yup, Jepang ! Negara yang pernah menjajah negeri kita sebelum negerinya sendiri merasakan ganasnya bom atom Amerika ini paham betul bagaimana menyikapi dan mengantisipasi gempa bumi. Bahkan kurikulum pendidikan sejak tingkat dini di sana sudah mengenal pembelajaran mengenai gempa. Sehingga diharapkan jika kelak bencana itu datang, mereka pun sudah mengenal langkah-langkah keselamatan yang baik dan benar, dengan dukungan pendidikan dini mengenal gempa.
Hmm..ngomong-ngomong soal wilayah yang sering dilanda gempa, bukannya wilayah geografis kita juga merupakan salah satu yang rawan gempa ya ?
Betul sekali !! Masih ingat istilah ring of fire ?? Daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi, yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik, yang tanpa permisi sudah mampir membelah peta geografis Indonesia. Tapi para ilmuwan sepertinya sudah seringkali menghimbau kalau kapan dan di mana terjadinya gempa, hingga kini belum bisa diprediksi dengan teknologi yang sudah ada sekarang.
Salah satu cara yang tepat ya dengan meniru negeri sakura Jepang dengan menerapkan dalam kurikulum pendidikan pelajaran mengenai gempa bumi secara kompleks, berikut langkah-langkah teknis menghadapinya. Dengan metode pembelajaran seperti itu korban bencana gempa bumi yang dahsyat sekalipun pasti bisa sedikit diredam. Paling tidak mungkin tidak ada lagi cerita mengenai segerombolan orang yang memanfaatkan surutnya air pantai pasca gempa tektonik dengan mengambil ikan-ikan yang keleparan.
Tak lama berselang setelah terjadi gempa bumi di Jogjakarta Mei 2006 yang lalu, saya sempat menonton sebuah film televisi di SCTV, yang bercerita mengenai seorang perantau yang sukses meniti karir di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Jakarta. Dalam cerita itu, si perantau harus sesegera mungkin memberi peringatan dini kepada sanak saudara dan orang tua, serta warga kampung halamannya di desa antah berantah, kalau dalam waktu yang sangat singkat akan terjadi gempa besar di daerah tersebut.
@##$#@!!?$#%$@%$!!*&
Apa bukan merupakan suatu teknik pembodohan ini namanya ??? Apa produser dan sutradaranya juga tidak pernah menonton atau membaca berita ??? Ko’ sampai-sampainya sebuah badan Negara disulap menjadi katro !!! Terlepas itu film fiksi, tetap saja segala sesuatunya harus disesuaikan dengan akal sehat manusia dong !!
Bukan bermaksud menggurui atau sok pintar. Tapi saudara-saudara kita di negeri tercinta ini masih banyak yang (maaf) bodoh, Bung !! Negara kita ini kan bangsanya setengah maju-setengah mundur. Jadi janganlah makin memperbodoh bangsa sendiri dengan isu atau rumor yang tidak logis. Bukannya gempa yang terjadi, tapi malah gempa + r , alias gemparrrrr !!!!!
“Aduh boo’..gue pokonya ga mau masuk kantor besok. Daripada gue brojol di tangga darurat !! ”, celetuk seorang teman wanita yang sedang hamil tua.
Itu sih belum seberapa, namanya juga orang hamil, membayangkan proses kelahiran saja parno, apalagi ditambah gempa ?! Tapi kalau yang paniK seorang laki-laki tulen dengan gelar master of bussines administration, yang sehari-hari duduk di ruang terpisah dari staf lainnya, dengan seorang sekretaris pribadi duduk di depan ruangannya ?? …Mmmmm….beli ya mas gelarnya ??
Hal serupa juga hampir saja terjadi pasca gempa besar dengan kekuatan 7,9 skala richter yang memberikan duka bagi warga Bengkulu dan sekitarnya di awal Ramadhan ini. Beberapa hari berselang muncul berita kalau kawasan di pulau Jawa dan Sumatera diprediksi akan merasakan guncangan hebat dengan kekuatan 9 skala richter, dengan berdasarkan indikasi - indikasi tertentu mengenai pergerakan lempengan bumi dalam keilmuan geofisika. Walaupun tak diperinci kapan dan di mana tepatnya pusat getaran, tapi di beberapa media cetak nasional sampai memosisikan berita tersebut sebagai headline di halaman utama, dengan narasumber Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Untung saja dalam waktu yang singkat, Kepala BMG Indonesia Sri Woro Budiati Harijono langsung menyangkal kabar burung, monyet dan teman – temannya itu.
Pasca gempa dan tsunami yang membumi hancurkan Nanggroe Aceh Darussalam akhir 2004 lalu, informasi mengenai teknologi bencana terutama gempa, ramai dibicarakan oleh berbagai media nasional dan internasional. Tentunya kalau media yang berbicara sudah pasti pengaruhnya sangat besar dong, apalagi bagi para kalangan terpelajar yang seharusnya mudah mencerna informasi.
Salah satu yang paling sering kita dengar yaitu Early Warning System. Suatu alat teknologi mutakhir yang dalam sekian detik mampu mendeteksi getaran gempa tektonik (di laut), apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Itupun setelah gempa terjadi, dan bukannya memprediksi kapan terjadinya gempa ya. Secanggih-canggihnya seismograph hanya bisa mencatat dan mengukur besarnya getaran yang terjadi, bukan memprediksi, meramal atau dan sebagainya. Bahkan Menristek Kusmayanto Kadiman dalam sebuah media massa mengatakan, kalau teknologi Early Warning System walau canggih sekalipun ternyata tidak dapat dijamin tepat 100 persen. Menurutnya masih banyak faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kerja alat pendeteksi tersebut.
Mungkin anda yang sedang membaca tulisan singkat ini tahu mana negara yang kerap menjadi salah satu langganan gempa. Yup, Jepang ! Negara yang pernah menjajah negeri kita sebelum negerinya sendiri merasakan ganasnya bom atom Amerika ini paham betul bagaimana menyikapi dan mengantisipasi gempa bumi. Bahkan kurikulum pendidikan sejak tingkat dini di sana sudah mengenal pembelajaran mengenai gempa. Sehingga diharapkan jika kelak bencana itu datang, mereka pun sudah mengenal langkah-langkah keselamatan yang baik dan benar, dengan dukungan pendidikan dini mengenal gempa.
Hmm..ngomong-ngomong soal wilayah yang sering dilanda gempa, bukannya wilayah geografis kita juga merupakan salah satu yang rawan gempa ya ?
Betul sekali !! Masih ingat istilah ring of fire ?? Daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi, yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik, yang tanpa permisi sudah mampir membelah peta geografis Indonesia. Tapi para ilmuwan sepertinya sudah seringkali menghimbau kalau kapan dan di mana terjadinya gempa, hingga kini belum bisa diprediksi dengan teknologi yang sudah ada sekarang.
Salah satu cara yang tepat ya dengan meniru negeri sakura Jepang dengan menerapkan dalam kurikulum pendidikan pelajaran mengenai gempa bumi secara kompleks, berikut langkah-langkah teknis menghadapinya. Dengan metode pembelajaran seperti itu korban bencana gempa bumi yang dahsyat sekalipun pasti bisa sedikit diredam. Paling tidak mungkin tidak ada lagi cerita mengenai segerombolan orang yang memanfaatkan surutnya air pantai pasca gempa tektonik dengan mengambil ikan-ikan yang keleparan.
Tak lama berselang setelah terjadi gempa bumi di Jogjakarta Mei 2006 yang lalu, saya sempat menonton sebuah film televisi di SCTV, yang bercerita mengenai seorang perantau yang sukses meniti karir di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Jakarta. Dalam cerita itu, si perantau harus sesegera mungkin memberi peringatan dini kepada sanak saudara dan orang tua, serta warga kampung halamannya di desa antah berantah, kalau dalam waktu yang sangat singkat akan terjadi gempa besar di daerah tersebut.
@##$#@!!?$#%$@%$!!*&
Apa bukan merupakan suatu teknik pembodohan ini namanya ??? Apa produser dan sutradaranya juga tidak pernah menonton atau membaca berita ??? Ko’ sampai-sampainya sebuah badan Negara disulap menjadi katro !!! Terlepas itu film fiksi, tetap saja segala sesuatunya harus disesuaikan dengan akal sehat manusia dong !!
Bukan bermaksud menggurui atau sok pintar. Tapi saudara-saudara kita di negeri tercinta ini masih banyak yang (maaf) bodoh, Bung !! Negara kita ini kan bangsanya setengah maju-setengah mundur. Jadi janganlah makin memperbodoh bangsa sendiri dengan isu atau rumor yang tidak logis. Bukannya gempa yang terjadi, tapi malah gempa + r , alias gemparrrrr !!!!!
Sunday, September 16, 2007
Balada Tombak, Pedang dan Peluru
Tak ada aktifitas yang lebih menggiurkan selain tidur dan bermalas-malasan di hari libur yang bebas dari segala kepenatan. Terutama penatnya merasakan kemacetan jalanan ibukota yang blerlkeberjbklaebjrljebr, alias berlibet bak benang kusut. Kebetulan jatah libur saya adalah hari Jum’at dan Sabtu. Untuk hari Jum’at, biasanya setelah istri berangkat kerja, saya pun melanjutkan tidur malam yang sedikit kepotong hingga pukul 10:00 wib, sambil menonton tayangan program yang saya kerjakan di kantor. Setelah itu tentunya Jum’at-an, yang diteruskan dengan acara makan dan tidur siang (lagi-red). Lanjut sorenya menjemput istri tercinta di kantor, kemudian sambil menunggu “benang kusut” kembali “tergulung rapi”, bersama teman-teman kami sering mengadakan meeting mingguan alias ngopi-ngopi di mal. Sedangkan untuk hari Sabtunya, yaa biasalah, kalau ga’ midnite-an film baru ya paling menyambangi undangan resepsi pernikahan yang tak ada habis-habisnya itu.
Tapi ada yang sedikit berbeda dari minggu-minggu biasanya. Jum’at pekan lalu saya terpaksa tidak bisa bermalas-malasan karena ada sebuah peristiwa yang terbilang langka. Apalagi kalau bukan berita dari timur jauh Pulau Ambon, tempat di mana simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS) berhasil menorobos “tebalnya” pengamanan acara peringatan Hari Keluarga Nasional ke-61 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Lapangan Merdeka, Ambon.
Weeekkk….!!!!! Kaget, terkejut, tapi agak sedikit senyum-senyum sekaligus tak heran mendengar berita tersebut. Coba bayangkan, pengamanan Presiden yang berlapis-lapis super ketat bisa tertembus puluhan penari ilegal yang tergabung dalam Republik Maluku Selatan (RMS), sebuah kelompok separatis yang kecewa terhadap lambatnya proses pembangunan di Maluku oleh pemerintah.
Seketika langsung saja saya pencat-pencet nomer telfon rekan-rekan yang connected dengan kegiatan kepresidenan, dan rekan koresponden di sana, dengan berinteraksi lewat sms:
Saya : Oii…gimana tuh, ko’ bisa bobol ??
Rekan 1: Aduuhh, payah deh pokonya !
Saya : Heh, di mana lo ?? Ikut ke Ambon ga ??
Rekan 2: Ga, gue libur
Saya : Gmana, dapet ga gambarnya ??
Rekan 3:Dapet.
Tiga ring atau tiga area lingkar pengamanan yang biasa diterapkan dalam prosedur keamanan Super VVIP seperti Presiden, biasanya diisi oleh personel dari Kepolisian untuk ring 3 atau yang terluar, kemudian personel TNI untuk ring 2, dan yang paling dalam atau yang paling dekat dengan Presiden diisi oleh personel Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang siap sedia menjadi benteng perlindungan sang Kepala Negara. Saya yang sering ikut acara Kepresidenan tahu betul bagaimana ketatnya pengamanan di lokasi. Kalau dihitung-hitung total tak kurang lah dari seratus personel keamanan yang standby di pos-nya masing-masing. Belum lagi metal detector yang bertebaran di mana-mana yang siap menyensor siapa pun yang membawa alat-alat berbahaya. Ditambah lagi setiap orang yang ingin masuk kudu-harus-wajib memegang kartu identitas khusus, yang sebelumnya didapat dari hasil screening oleh Biro Pers dan Media Kepresidenan.
Nah, kurang ketat apalagi coba ?! Maka dari itu saya sampai tak habis pikir, ko’ bisa-bisanya puluhan orang tak dikenal bablas masuk dengan berbagai atribut seperti tombak dan pedang, walaupun hanya terbuat dari kayu, serta bendera “kenegaraan” mereka. Melihat tayangannya pertama kali saja bulu kuduk berdiri merinding, karena terlihat seperti adegan dalam film yang menggambarkan upaya pembunuhan Kepala Negara oleh sekelompok suku pedalaman yang sadis. Untung saja tombak-tombak yang mereka bawa tidak dilemparkan ke tribun Presiden. Duhh, piye iki ??
Jadi siapa yang seharusnya “mengaku” bersalah dan bertanggung jawab ?? Dari mulai Kapolri, Panglima TNI, serta Danplek (Komandan Komplek) Paspampres pun bernada beda, bahkan terkesan saling melempar tanggung jawab.
Sesaat setelah insiden terjadi Kapolri melalui Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan kalau pihaknya tidak kebobolan melainkan aksi “penggagalan” pembentangan bendera RMS justru buah cermin kecermatan anggotanya. Sedangkan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto mengatakan kalau itu merupakan kelalaian aparat. Tapi dengan sensitif Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sjamsir Siregar merasa tersinggung kalau pihaknya sudah kebobolan. Malah dengan “telatnya” pihaknya merasa telah memberi informasi kepada semua pihak, termasuk penyelenggara, soal rencana penyusupan pembentangan bendera RMS, jauh-jauh hari sebelumnya.
Nah, bagaimana dengan Paspampres ??
Saya jadi ingat beberapa kali kasus “kebobolan” juga pernah terjadi di dalam lingkungan Istana Kepresidenan sendiri. Beberapa teman wartawan yang tidak memiliki akses masuk resmi bahkan driver sebuah stasiun televisi swasta yang tidak mempunyai kepentingan pun bisa berkeliaran bebas di dalam istana, setelah menembus barikade pengamanan pintu masuk yang dijaga ketat oleh beberapa anggota Paspampres, yang berjumlah dua check point.
Lah, ko’ bisa ?? Caranya gampang, tinggal menunggu serombongan wartawan istana yang ingin masuk saja dengan bergabung di tengah-tengah antrian mereka, maka masuklah dengan aman dan lancar ke titik paling vital negara. Padahal dua check point yang ada itu benar-benar dijaga oleh mas-mas berbadan tegap dan sangar dari satuan Paspampres.
First check point ada di pintu masuk kendaraan ber-sticker resmi istana persis di pinggir Jalan Veteran di sayap kiri istana. Di situ semua orang yang masuk harus menunjukkan ID Card resmi keluaran Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan, serta melewati security door untuk orang, dan x-ray untuk barang-barang yang dibawa. Pakaian yang dikenakan pun harus formal, yaitu celana bahan dan kemeja serta sepatu pantopel untuk pria. Sedangkan untuk perempuan rok atau celana bahan serta kemeja atau blous, lengkap dengan sepatu ber-hak wajib dipakai. Bagi yang tidak memiliki ID Card resmi, harus meninggalkan terlebih dahulu kartu tanda pengenal, serta selanjutnya melalui sedikit screening oleh staff Biro Pers. Setelah melewati check point pertama yang menghubungkan dunia luar dengan area Rumah Tangga Kepresidenan, pengunjung harus melewati lagi second check point bagi yang memiliki keperluan penting di Istana Negara dan Istana Merdeka, serta kantor Presiden. Biasanya para wartawan istana bisa bebas keluar masuk lingkungan ini karena kebutuhan peliputan berita.
Kebayang kan, bagaimana susahnya menembus “3 area pertahanan” sang Kepala Negara ?? Maka sepatutnya tak usahlah saling menuduh siapa yang harus bertanggung jawab. Wong pengamanan dalamnya saja “sering” kebobolan ko’. Tapi anehnya ya itu tadi, bagaimana puluhan orang dengan berbagai alat tari berupa tombak dan pedang bisa menembus ribuan puluru yang siap kokang ??
Silahkan jawab sendiri dengan akal sehat. Terima kasih.
Tapi ada yang sedikit berbeda dari minggu-minggu biasanya. Jum’at pekan lalu saya terpaksa tidak bisa bermalas-malasan karena ada sebuah peristiwa yang terbilang langka. Apalagi kalau bukan berita dari timur jauh Pulau Ambon, tempat di mana simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS) berhasil menorobos “tebalnya” pengamanan acara peringatan Hari Keluarga Nasional ke-61 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Lapangan Merdeka, Ambon.
Weeekkk….!!!!! Kaget, terkejut, tapi agak sedikit senyum-senyum sekaligus tak heran mendengar berita tersebut. Coba bayangkan, pengamanan Presiden yang berlapis-lapis super ketat bisa tertembus puluhan penari ilegal yang tergabung dalam Republik Maluku Selatan (RMS), sebuah kelompok separatis yang kecewa terhadap lambatnya proses pembangunan di Maluku oleh pemerintah.
Seketika langsung saja saya pencat-pencet nomer telfon rekan-rekan yang connected dengan kegiatan kepresidenan, dan rekan koresponden di sana, dengan berinteraksi lewat sms:
Saya : Oii…gimana tuh, ko’ bisa bobol ??
Rekan 1: Aduuhh, payah deh pokonya !
Saya : Heh, di mana lo ?? Ikut ke Ambon ga ??
Rekan 2: Ga, gue libur
Saya : Gmana, dapet ga gambarnya ??
Rekan 3:Dapet.
Tiga ring atau tiga area lingkar pengamanan yang biasa diterapkan dalam prosedur keamanan Super VVIP seperti Presiden, biasanya diisi oleh personel dari Kepolisian untuk ring 3 atau yang terluar, kemudian personel TNI untuk ring 2, dan yang paling dalam atau yang paling dekat dengan Presiden diisi oleh personel Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang siap sedia menjadi benteng perlindungan sang Kepala Negara. Saya yang sering ikut acara Kepresidenan tahu betul bagaimana ketatnya pengamanan di lokasi. Kalau dihitung-hitung total tak kurang lah dari seratus personel keamanan yang standby di pos-nya masing-masing. Belum lagi metal detector yang bertebaran di mana-mana yang siap menyensor siapa pun yang membawa alat-alat berbahaya. Ditambah lagi setiap orang yang ingin masuk kudu-harus-wajib memegang kartu identitas khusus, yang sebelumnya didapat dari hasil screening oleh Biro Pers dan Media Kepresidenan.
Nah, kurang ketat apalagi coba ?! Maka dari itu saya sampai tak habis pikir, ko’ bisa-bisanya puluhan orang tak dikenal bablas masuk dengan berbagai atribut seperti tombak dan pedang, walaupun hanya terbuat dari kayu, serta bendera “kenegaraan” mereka. Melihat tayangannya pertama kali saja bulu kuduk berdiri merinding, karena terlihat seperti adegan dalam film yang menggambarkan upaya pembunuhan Kepala Negara oleh sekelompok suku pedalaman yang sadis. Untung saja tombak-tombak yang mereka bawa tidak dilemparkan ke tribun Presiden. Duhh, piye iki ??
Jadi siapa yang seharusnya “mengaku” bersalah dan bertanggung jawab ?? Dari mulai Kapolri, Panglima TNI, serta Danplek (Komandan Komplek) Paspampres pun bernada beda, bahkan terkesan saling melempar tanggung jawab.
Sesaat setelah insiden terjadi Kapolri melalui Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan kalau pihaknya tidak kebobolan melainkan aksi “penggagalan” pembentangan bendera RMS justru buah cermin kecermatan anggotanya. Sedangkan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto mengatakan kalau itu merupakan kelalaian aparat. Tapi dengan sensitif Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sjamsir Siregar merasa tersinggung kalau pihaknya sudah kebobolan. Malah dengan “telatnya” pihaknya merasa telah memberi informasi kepada semua pihak, termasuk penyelenggara, soal rencana penyusupan pembentangan bendera RMS, jauh-jauh hari sebelumnya.
Nah, bagaimana dengan Paspampres ??
Saya jadi ingat beberapa kali kasus “kebobolan” juga pernah terjadi di dalam lingkungan Istana Kepresidenan sendiri. Beberapa teman wartawan yang tidak memiliki akses masuk resmi bahkan driver sebuah stasiun televisi swasta yang tidak mempunyai kepentingan pun bisa berkeliaran bebas di dalam istana, setelah menembus barikade pengamanan pintu masuk yang dijaga ketat oleh beberapa anggota Paspampres, yang berjumlah dua check point.
Lah, ko’ bisa ?? Caranya gampang, tinggal menunggu serombongan wartawan istana yang ingin masuk saja dengan bergabung di tengah-tengah antrian mereka, maka masuklah dengan aman dan lancar ke titik paling vital negara. Padahal dua check point yang ada itu benar-benar dijaga oleh mas-mas berbadan tegap dan sangar dari satuan Paspampres.
First check point ada di pintu masuk kendaraan ber-sticker resmi istana persis di pinggir Jalan Veteran di sayap kiri istana. Di situ semua orang yang masuk harus menunjukkan ID Card resmi keluaran Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan, serta melewati security door untuk orang, dan x-ray untuk barang-barang yang dibawa. Pakaian yang dikenakan pun harus formal, yaitu celana bahan dan kemeja serta sepatu pantopel untuk pria. Sedangkan untuk perempuan rok atau celana bahan serta kemeja atau blous, lengkap dengan sepatu ber-hak wajib dipakai. Bagi yang tidak memiliki ID Card resmi, harus meninggalkan terlebih dahulu kartu tanda pengenal, serta selanjutnya melalui sedikit screening oleh staff Biro Pers. Setelah melewati check point pertama yang menghubungkan dunia luar dengan area Rumah Tangga Kepresidenan, pengunjung harus melewati lagi second check point bagi yang memiliki keperluan penting di Istana Negara dan Istana Merdeka, serta kantor Presiden. Biasanya para wartawan istana bisa bebas keluar masuk lingkungan ini karena kebutuhan peliputan berita.
Kebayang kan, bagaimana susahnya menembus “3 area pertahanan” sang Kepala Negara ?? Maka sepatutnya tak usahlah saling menuduh siapa yang harus bertanggung jawab. Wong pengamanan dalamnya saja “sering” kebobolan ko’. Tapi anehnya ya itu tadi, bagaimana puluhan orang dengan berbagai alat tari berupa tombak dan pedang bisa menembus ribuan puluru yang siap kokang ??
Silahkan jawab sendiri dengan akal sehat. Terima kasih.
Wayang = Orang Indonesia
Jauh berbeda dengan kamar tidur anak kecil kebanyakan yang dihiasi poster, mainan figure super hero atau boneka, sejak duduk di taman kanak-kanak saya terbiasa memandangi jejeran wayang kulit yang digantung di sekeliling dinding kamar. Ada Pandawa Lima bersaudara; Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa; ada juga tokoh manusia setengah kera, Hanoman; dan juga tak ketinggalan si otot kawat tulang baja, Gatotkaca. Mereka semua adalah para ksatria dalam cerita pewayangan.
Memang sejak kecil ayah yang memang asli anak pesisir pantai utara Jawa sudah menanamkan budaya leluhur kepada anak-anaknya. Salah satunya ya melalui wayang tadi. Tujuannya jelas, demi pembentukan diri agar terbentuk pribadi yang luhur dalam diri anak-anaknya.
Beberapa waktu lalu di sebuah media cetak nasional, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik menyinggung soal pentingnya pelestarian wayang sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. Menurutnya unsur cerita dan tokoh pewayangan memiliki nilai dan pesan filsafat kehidupan yang sangat tepat untuk membentuk budaya bangsa yang akan menjadi potret orang Indonesia sampai kapan pun.
Saya setuju, dan sangat-sangat setuju dengan pemikiran beliau. Bahkan itulah yang menjadi alas an kenapa saya membuat tulisan singkat ini.
Menurut beberapa sumber, wayang mulai berkembang di Indonesia sebelum masuknya ajaran Hindu di pulau Jawa. Dan pertunjukan kesenian wayang adalah salah satu bentuk upacara keagamaan orang Jawa yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, mengenai sosok leluhur yang dituangkan dalam bentuk gambar di atas sehelai daun lontar. Kemudian selanjutnya seiring masuknya ajaran Hindu, kerajaan – kerajaan Jawa yang menganutnya bertahap mengembangkan wayang yang dilebur dengan cerita – cerita atau epos (karya sastra kuno-red) dari India. Masih ingat film Mahabarata yang diputar di sebuah stasiun televisi swasta pada pertengahan tahun 90-an ?? Nah itulah salah satu epos yang paling terkenal yang bercerita tentang konflik para Pandawa Lima dengan saudara sepupu mereka Kurawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra. Pertempuran tersebut berlangsung selama delapan belas hari.
Metamorfosa dari jaman ke jaman itulah yang menandakan betapa hebatnya wayang sehingga terpatri dalam budaya bangsa, khususnya Jawa. Mungkin lebih tepatnya lagi menjadi cermin diri orang Jawa. Bukannya mentang-mentang saya orang Jawa lantas ingin membeda-bedakan suku dan ras bangsa Indonesia yang beragam lho, tapi toh memang pada nyatanya suku Jawa terbukti lebih dominan atau menjadi mayoritas di Indonesia, dari segi jumlah. Selain itu wayang pun juga akhirnya menyebar ke penjuru negeri ko’, dengan adanya wayang Bali dan bahkan sampai ke Melayu. Maka dari itu sangatlah tepat dan benar, perlunya keseriusan pemerintah dalam melestarikan wayang.
Saya pun sebenarnya akhirnya juga tidak terlalu mengerti dan memahami atau mendalami cerita pewayangan secara detil. Tapi setidaknya dari cerita wayang itulah saya mengetahui banyak manfaat dan pelajaran mengenai kehidupan yang sangat baik untuk dijadikan pedoman.
Salah satu cerita yang paling saya ingat adalah cerita mengenai asal usul sosok tokoh manusia raksasa yang penuh angkara murka, Rahwana.
Dalam cerita pewayangan Rahwana lahir dari suatu hubungan gelap antara seorang tokoh sufi yang sakti manderaguna, Begawan Wisrawa dan seorang puteri kerajaan Alengka, Dewi Sukesi. Pada jamannya Dewi Sukesi merupakan seorang puteri raja yang cantik jelita, dan kekasih dari Prabu Danapati, putera Begawan Wisrawa. Namun untuk melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang bahtera rumah tangga ternyata harus menempuh banyak rintangan. Salah satunya harus mengubah sosok kedua orang tua Dewi Sukesi yang ternyata berasal dari golongan raksasa, menjadi wujud manusia.
Alih punya alih, ternyata tidak ada yang memiliki ilmu setinggi itu yang mampu menuruti keinginan Dewi Sukesi untuk mengubah hal yang sepertinya mustahil, selain Begawan Wisrawa, calon ayah mertuanya sendiri. Dan Dewi Sukesi nampaknya ingin menggunakan ilmu itu seorang sendiri. Lantas tidak tidak ada cara lain selain Begawan Wisrawa yang harus menransfer ilmunya ke si calon mantu.
Namun untuk menghindari adanya mahluk lain yang bisa ikut mendengar dan mempelajari mantera tersebut, dilakukanlah proses transfer ilmu di dalam ruangan yang amat sangat rapat tertutup. Tapi sayangnya mereka lupa kalau di ruang yang super ketat itu iblis masih bisa masuk. Apalagi mereka hanya berdua, antara seorang tua renta dan perempuan yang teramat cantik jelita.
Bisa ditebak, walaupun sudah tua renta ternyata dengan “bantuan” iblis Begawan Wisrawa ternyata kembali lagi syahwatnya layaknya anak muda yang menggelora. Dengan “bantuan” iblis pula Dewi Sukesi yang masih suci ternyata ikut membara, dan gelap mata melihat kejantanan calon mertuanya.
Dan, terjadilah sudah hubungan maksiat yang sangat menggemparkan dalam salah satu cerita
pada epos Ramayana itu, dengan hamilnya Dewi Sukesi. Mungkin akan untung jadinya kalau jabang bayi yang kelak lahir nanti menjadi seorang yang sakti manderaguna seperti Begawan Wisrawa. Tapi kalau sesosok anak raksasa seperti Prabu Sumali, Raja Alengka, yang juga ayahanda Dewi Sukesi ?!
Kejahatan menciptakan kejahatan, kebaikan pasti menciptakan kebaikan. Setiap niat jahat pasti menghasilkan kejahatan, dan setiap niat baik pasti menghasilkan kebaikan. Begitulah tadi cerita asal mulanya tokoh Rahwana, si raja kejahatan berwajah sepuluh yang amat sangat angkara murka dalam epos pewayangan Ramayana. Ceritanya sungguh apik dan amat sangat sarat makna, serta mudah dicerna. Bayangkan kalau nilai dan pesan yang sangat luhur ini tertanam dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. Sehingga jiwa ksatria tidak hanya hinggap dalam siri sosok seperti Pandawa Lima bersaudara, tapi juga seluruh saudara-saudara kita sebangsa setanah air.
Memang sejak kecil ayah yang memang asli anak pesisir pantai utara Jawa sudah menanamkan budaya leluhur kepada anak-anaknya. Salah satunya ya melalui wayang tadi. Tujuannya jelas, demi pembentukan diri agar terbentuk pribadi yang luhur dalam diri anak-anaknya.
Beberapa waktu lalu di sebuah media cetak nasional, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik menyinggung soal pentingnya pelestarian wayang sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. Menurutnya unsur cerita dan tokoh pewayangan memiliki nilai dan pesan filsafat kehidupan yang sangat tepat untuk membentuk budaya bangsa yang akan menjadi potret orang Indonesia sampai kapan pun.
Saya setuju, dan sangat-sangat setuju dengan pemikiran beliau. Bahkan itulah yang menjadi alas an kenapa saya membuat tulisan singkat ini.
Menurut beberapa sumber, wayang mulai berkembang di Indonesia sebelum masuknya ajaran Hindu di pulau Jawa. Dan pertunjukan kesenian wayang adalah salah satu bentuk upacara keagamaan orang Jawa yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, mengenai sosok leluhur yang dituangkan dalam bentuk gambar di atas sehelai daun lontar. Kemudian selanjutnya seiring masuknya ajaran Hindu, kerajaan – kerajaan Jawa yang menganutnya bertahap mengembangkan wayang yang dilebur dengan cerita – cerita atau epos (karya sastra kuno-red) dari India. Masih ingat film Mahabarata yang diputar di sebuah stasiun televisi swasta pada pertengahan tahun 90-an ?? Nah itulah salah satu epos yang paling terkenal yang bercerita tentang konflik para Pandawa Lima dengan saudara sepupu mereka Kurawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra. Pertempuran tersebut berlangsung selama delapan belas hari.
Metamorfosa dari jaman ke jaman itulah yang menandakan betapa hebatnya wayang sehingga terpatri dalam budaya bangsa, khususnya Jawa. Mungkin lebih tepatnya lagi menjadi cermin diri orang Jawa. Bukannya mentang-mentang saya orang Jawa lantas ingin membeda-bedakan suku dan ras bangsa Indonesia yang beragam lho, tapi toh memang pada nyatanya suku Jawa terbukti lebih dominan atau menjadi mayoritas di Indonesia, dari segi jumlah. Selain itu wayang pun juga akhirnya menyebar ke penjuru negeri ko’, dengan adanya wayang Bali dan bahkan sampai ke Melayu. Maka dari itu sangatlah tepat dan benar, perlunya keseriusan pemerintah dalam melestarikan wayang.
Saya pun sebenarnya akhirnya juga tidak terlalu mengerti dan memahami atau mendalami cerita pewayangan secara detil. Tapi setidaknya dari cerita wayang itulah saya mengetahui banyak manfaat dan pelajaran mengenai kehidupan yang sangat baik untuk dijadikan pedoman.
Salah satu cerita yang paling saya ingat adalah cerita mengenai asal usul sosok tokoh manusia raksasa yang penuh angkara murka, Rahwana.
Dalam cerita pewayangan Rahwana lahir dari suatu hubungan gelap antara seorang tokoh sufi yang sakti manderaguna, Begawan Wisrawa dan seorang puteri kerajaan Alengka, Dewi Sukesi. Pada jamannya Dewi Sukesi merupakan seorang puteri raja yang cantik jelita, dan kekasih dari Prabu Danapati, putera Begawan Wisrawa. Namun untuk melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang bahtera rumah tangga ternyata harus menempuh banyak rintangan. Salah satunya harus mengubah sosok kedua orang tua Dewi Sukesi yang ternyata berasal dari golongan raksasa, menjadi wujud manusia.
Alih punya alih, ternyata tidak ada yang memiliki ilmu setinggi itu yang mampu menuruti keinginan Dewi Sukesi untuk mengubah hal yang sepertinya mustahil, selain Begawan Wisrawa, calon ayah mertuanya sendiri. Dan Dewi Sukesi nampaknya ingin menggunakan ilmu itu seorang sendiri. Lantas tidak tidak ada cara lain selain Begawan Wisrawa yang harus menransfer ilmunya ke si calon mantu.
Namun untuk menghindari adanya mahluk lain yang bisa ikut mendengar dan mempelajari mantera tersebut, dilakukanlah proses transfer ilmu di dalam ruangan yang amat sangat rapat tertutup. Tapi sayangnya mereka lupa kalau di ruang yang super ketat itu iblis masih bisa masuk. Apalagi mereka hanya berdua, antara seorang tua renta dan perempuan yang teramat cantik jelita.
Bisa ditebak, walaupun sudah tua renta ternyata dengan “bantuan” iblis Begawan Wisrawa ternyata kembali lagi syahwatnya layaknya anak muda yang menggelora. Dengan “bantuan” iblis pula Dewi Sukesi yang masih suci ternyata ikut membara, dan gelap mata melihat kejantanan calon mertuanya.
Dan, terjadilah sudah hubungan maksiat yang sangat menggemparkan dalam salah satu cerita
pada epos Ramayana itu, dengan hamilnya Dewi Sukesi. Mungkin akan untung jadinya kalau jabang bayi yang kelak lahir nanti menjadi seorang yang sakti manderaguna seperti Begawan Wisrawa. Tapi kalau sesosok anak raksasa seperti Prabu Sumali, Raja Alengka, yang juga ayahanda Dewi Sukesi ?!
Kejahatan menciptakan kejahatan, kebaikan pasti menciptakan kebaikan. Setiap niat jahat pasti menghasilkan kejahatan, dan setiap niat baik pasti menghasilkan kebaikan. Begitulah tadi cerita asal mulanya tokoh Rahwana, si raja kejahatan berwajah sepuluh yang amat sangat angkara murka dalam epos pewayangan Ramayana. Ceritanya sungguh apik dan amat sangat sarat makna, serta mudah dicerna. Bayangkan kalau nilai dan pesan yang sangat luhur ini tertanam dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. Sehingga jiwa ksatria tidak hanya hinggap dalam siri sosok seperti Pandawa Lima bersaudara, tapi juga seluruh saudara-saudara kita sebangsa setanah air.
Subscribe to:
Posts (Atom)